Saat Pertama Kali...
Sebenarnya kejadian ini sudah cukup lama terjadi. Tapi aku akan mengingat kembali awal memori yang teramat indah bagiku..
Malam sebelumnya, aku menyusun rencana bagaimana aku dapat mendekati orang itu dan berkenalan dengannya. Setelah aku punya rencana yang cukup baik tapi sedikit licik, aku putuskan untuk tidur karena hari sudah larut malam.
Pagi itu matahari bersinar begitu cerah seperti diriku yang amat ceria di pagi itu. Di hari itu aku melihat orang itu sedang berdiri menunggu sebuah bus yang akan mengantar dia pergi ke sekolahnya. Di sudut lain, duduklah aku, Indra, Anis Junair, dan temanku Ravi. Aku pikir ini adalah saat yang tepat untuk berkenalan. Tanpa basa-basi aku menitipkan tas ku ke temanku Ravi dan akupun mendekati dia. Dan aku berkata :
“Hai..” sapa ku dengan ramah
“Hai juga..” jawab dia dengan pandangan agak sinis
“Eh kamu anak SMA 6 ya?” tanyaku dengan nada agak grogi
“Iya kenapa?”
“Oh.. berarti kenal sama yang namanya Moezar dong?”
“Moezar siapa? Gak kenal tuh. Kelas berapa dulu dia?” jawab dia dengan nada penasaran
“Waduh.. masak gak kenal? Kalo Rizkita kenal gak?” tanyaku kebingungan
“Haa.. gak kenal aku..”
“Wahh gimana ki..”
“Ada apa sih emang?” Tanya dia
“Aku tuh punya urusan sama dia, tapi enggak punya nomernya..”
“Oh.. kirain ada apa”
“Emm gini aja.. aku minta nomermu boleh gak?”
“Nomer apa?”
“Ya nomer Hp lah, boleh gak? Tanyaku dengan nada gemeteran
“Boleh, catet sendiri ya?”
“Iyaa..”
“085.........”
“Hehe makasih ya, eh siapa namanya?”
“Namanya Inas”
“Siapaa?”
“Inaasss”
“Oh Inas, yaudah makasih ya. Nanti sore tak sms. Aku mau tanya-tanya lagi”
“He’em iyaa”
Setelah dapat nomer HP orang itu (Inas), aku langsung menghampiri teman-temanku yang kebetulan sudah naik bus sekolah. Begitu aku membuka pintu bus sekolah, aku langsung di soraki dengan teriakan “ciyyeeee adiitt...”
Sontak aku kaget dan malu karena tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Aku langsung duduk di bagian paling belakang sebelah jendela kiri bus sekolah. Di dalam bus temanku Indra bertanya kepadaku :
“Gimana dapet nomernya gak dit?” Tanya Indra
“Hahaa dapet ndra, tapi aku grogi nih..” ucapku kepada Indra
“Hahaha yang penting udah dapet nomernya, terus ajak dia kenalan hehe..”
“Iyaa ndra, nanti tak coba hehe..”
Setelah sampai di sekolahan, aku dan teman-temanku langsung duduk di depan kelas XI-Bahasa yang kebetulan adalah kelasnya Indra. Seperti biasa kami berbincang-bincang sambil menunggu bel masuk berbunyi. Tidak lama kemudian, bel itu berbunyi. Kami langsung masuk ke kelas masing-masing. Jarak kelasku dengan kelasnya Indra tidak jauh, cuman 5 meter. Beda dengan jarak kelasnya Anis Junair dan Ravi yang letaknya cukup jauh dari kelasnya Indra namun berdekatan dengan kantin itu. Di dalam kelas aku pamer kepada temanku bernama Ricky yang beberapa hari lalu bilang kepadaku “kalo minggu ini kamu dapet nomer orang itu, aku bakal nurut sama perintahmu selama satu minggu full..” Aku pamer sama Ricky nomer orang yang tadi pagi aku ajak kenalan. Ricky cuma tersenyum. Dan aku langsung bertanya “Inget janji mu yaa? Kamu harus nurut sama perintahku seminggu ini..” Tapi Ricky tidak menepati janjinya.
Jam menunjukkan pukul 13.30, itu artinya saatnya untuk pulang ke rumah masih-masih dan meninggalkan penat selama pelajaran di sekolah. Sesampai di rumah, aku tidak langsung sms orang itu dulu. Tapi aku langsung tidur siang. Bangun dari tidur siang, aku langsung buka HP apa ada sms masuk tidak. Tahu kalau HP tidak ada sms sama sekali, akupun langsung sms dia :
“eh gimana udah dapet nomernya gak?” sms pertamaku ke dia
Menunggu menunggu dan menunggu. Ternyata enggak di balas. Aku enggak putus asa. Aku coba lagi, siapa tau ada yang salah dengan pesanku yang pertama.
“Assalamu’alaikum. Gimana udah dapet nomernya belum?”
Beberapa menit kemudian Hpku berbunyi, dan ada sebuah pesan dari orang itu
“Belom. Tau orangnya aja enggak..”
“Wahh.. lha kamu emang kelas berapa sih?” Tanyaku
“Kelas 10”
“Oh kirain kelas 11, Moezar kelas 11 ok..”
Dan langsung tidak di balas...
Pagi harinya aku bertemu lagi dengan dia. Temanku yang bernama Indra yang terkenal cukup usil memanggil-manggil dia dari dalam bus sekolah. “Inaaaasss... Innaaaaasss..” dan sontak aku sms dia “hehe maaf tadi temenku yang manggil-manggil kamu, temenku emang sedikit gila ok”. Dan dia tidak balas. Beberapa hari kemudian, temanku Ricky memberitahu aku sebuah kabar gembira.
“Eh dit..”
“Apa Rick?”
“Aku udah dapet nama FB orang itu lho..” ucap Ricky
“Hehe mana-mana aku minta, tak ADD nanti..”
“Aaa gak mau. Cari sendiri ah. Sini aku pinjem Hpmu, aku mau Fban bentar”
“Halaah Ricky pelit ok, yaudah nih.. jangan lama-lama yaa”
“Iyaa dit, cerewet”
Kurang lebih setengah jam Ricky pinjem Hpku untuk buka FB dia. Lalu Ricky mengembalikan Hpku. Sontak akupun iseng-iseng membuka Kotak History di Hpku, siapa tau ada nama FB orang itu. Tidak sia-sia aku membuka kotak History Hpku. Ternyata di bagian paling bawah ada FB bernama Inas ******* *****. Lalu aku langsung mem-Bookmark FB itu. Sebentar-sebentar aku melihat foto dia untuk memastikan itu orang yang kemarin aku ajak kenalan atau bukan. Dan memang itu FB dia. Sekitar satu minggu setelah itu, aku langsung mengirim permintaan pertemanan di FBnya orang itu. Tanggal 1 Juni 2012, dia mengkonfirmasi permintaan tersebut. Otomatis aku sudah berteman dengan dia di FB.
Pada tanggal 30 Juli dia berulang tahun, aku mengucapkan ucapan selamat ulang taun kepada orang itu (Inas) melalui FB bukan dari pesan sms. Hari berikutnya dia mengomentari kirimanku itu, dan aku juga mengomentari kirimanku di dinding FB dia. Lama-kelamaan aku sering melihat profilnya, memberi Like pada tiap statusnya, walaupun pada saat itu dia tidak pernah Like balik statusku. Rupanya dia sudah mempunyai pacar. Aku sontak kaget dengan hal itu, dan berniat untuk tidak meneruskan hal ini lagi.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
Namun saat temanku Ricky menandai aku dan Inas sebuah stiker bertuliskan kata WOLES, aku, Inas, Ricky, dan Indra perlahan mulai saling ejek-mengejek. Dan tak lama setelah itu Hpku berbunyi, rupanya Indra sms :
“dit, aku minta nomernya Inas. Kata dia yang punya nomerku Cuma kamu sama Ricky ok”
Aku kaget dengan pesan Indra itu, dan membalasnya :
“haa.. berarti masih aktif? Hehe yaudah nih..”
Di hari itu juga aku Inbox Inas melalui FB. “Inas, ini temanku Indra mau minta nomer kamu. Kasih gak?” Tidak lama kemudian Inas balas Inboxku dengan nada canda. “Hehe iya terserah kamu :p” Lalu aku dan Inas meneruskan Inbox itu sampai malam. Ternyata Inas tidak seperti yang ku duga sebelumnya, dia baik.
Siang hari pada tanggal 12 September 2012 setelah pulang sekolah, Aku, Ricky, Indra, dan Anis Junair sedang nongkrong di sebuah gubuk kecil yang cukup untuk duduk orang empat. Tidak lama kemudian aku sms dia.
“Pak Agung Junior :p”
“Siapa lagii iniii...?” balas Inas
“Aku Adzkiya, kamu siapa?” jawabku dengan nada bercanda
“Adzkiya itu akuuuu, kamu siapa?
“yaudah deh ngaku aja aku hehe, aku Oliver A. Sykes. Vokalis dari band Bring Me The Horizon wkwk :p”
“haha aditya kan?”
“hehe kok tau?”
“iya tau lah :p”
Percakapan ini berlanjut sampai malam hari. Dan di hari berikutnya aku dan Inas mulai asyik sms’an. Lalu di Inbox FB, dia memanggil aku dengan kata “beh” yang jika di tafsirkan berarti panggilan untuk orang yang di sayangi. Lama-kelamaan aku mulai terbiasa memanggil Inas dengan sebutan “Bebeh” hehe. Tiap sms’an dengan Inas, tidak pernah membahas hal yang bermutu, hanya hal-hal konyol yang aku dan Inas bicarakan melalui sms tersebut. Namun pada saat aku ada tambahan mata pelajaran, tepatnya mata pelajaran bahasa indonesia, Inas sms aku. Sontak aku kaget “tumben Inas sms aku jam segini nih..” ucapku pada Ricky. “hehe masak? Bales aja siapa tau penting” jawab Ricky yang sedang sibuk mengerjakan soal. Saat asyik sms dengan Inas, guru berkata “Adit.. jangan mainan HP terus!” ucap guruku dengan nada agak kesal. Akupun kaget dengan gertakan guruku itu, dan sms Inas “Nanti lagi aja yaa, aku di marahi guruku hehe..”. Tidak lama kemudian Inas membalas smsku “iyaa, maaf ya. Gara-gara aku kamu dimarahin gurumu..” Akupun langsung membalas “Hehe enggak papa kok, enggak salahmu wkwk :p”.
Suatu hari tepatnya sebelum aku pulang sekolah, Inas sms aku untuk mampir dulu di gubuk tempat nongkrong aku dan teman-teman. Ternyata dia sudah menunggu aku disana, saat turun dari bis, aku langsung dipanggil Inas. Aku langsung menghampiri dia dan berkata ”Ada apa?”. Inas langsung menjawab dengan muka masih malu-malu
“enggak papa, ini lho cuma Hpku baterenya habis. Tolong smsin mamaku dong..”
“Iyaa deh, tapi nanti aja ya wkwk..”
Disana aku, Inas, Anis Junair, dan Indra duduk bersama. Tapi aku dan Inas duduk berdekatan. Itu adalah saat pertama kalinya aku duduk berdekatan dengan Inas. Aku iseng-iseng mengarahkan kamera Hpku ke Inas, dan “Kliik..” dapat satu foto Inas hehe. Walaupun nada bicaraku campur aduk antara bahasa jawa dengan bahasa indonesia, badanku tidak grogi hehe. Sekitar jam setengah 4, Inas minta aku untuk sms mamanya dengan Hpku. Aku ketik sms itu lalu dikirim ke Hpnya mama Inas. Lima menit kemudian mama Inas datang, dan Inaspun pamitan untuk pulang.
Hari demi hari berlalu, aku mulai merasa ada sebuah perasaan yang aneh antara aku dan Inas. Lalu pada tanggal 21 Oktober 2012, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan sesuatu kepada Inas melalui sms :
“beh, sekian lama aku temenan sama kamu, aku ngrasa ada yg spesial dari kamu buat aku. kamu begitu peduli, baik, pengertian, sampai nghibur aku saat aku gak mood, walaupun kadang nyebelin :p. bagiku kamu bagaikan malaikat yg turun dari surga yg bertugas untuk mengisi kekosongan hati ini. singkat aja yaa :) kamu mau gak jadi pacarku? :)” smsku kepada Inas
Tidak lama kemudian Inas membalas. Tapi dia tidak langsung menerimaku, dia masih ada masalah dengan mantannya. Jadi aku di suruh menunggu untuk beberapa saat. Lalu tepat pada tanggal 1 November 2012 pukul 09.45 WIB, Inas sms aku “Yang, dari angka 1 sampai 3 kamu pilih yg mana?” aku jawab “Emm.. aku pilih angka 1 aja wes, kenapa yang?” Tapi smsku yang ini tidak di balas. Pada tanggal 10 November 2012 pukul 10.20 WIB aku sms dia “10.11.12 :* :D” dan pukul 13.52 Inas membalas smsku tadi “yang, hari ini kan tanggale bagus tooh, laah mending to yaang ...”. Sepulang sekolah aku tidur siang, dan tidak tahu ternyata Inas menelpon aku terus. Akupun langsung mengangkat telepon itu. Malam harinya aku dan Inas online FB bersama, pada saat itu juga Inas mengirim aku sebuah permintaan hubungan kepadaku. Pukul 18.49 WIB aku mengkonfirmasi permintaan itu. Aku dan Inas udah resmi berpacaran di hari itu, tepatnya tanggal 10 November 2012
Selama berpacaran dengan Inas, masih juga kami berdua membahas hal yang konyol yang tidak perlu di bicarakan. Tiap pagi sebelum berangkat sekolah, aku selalu bertemu dengan Inas di Beranda Bali. Inas saat itu melihat aku dari kejauhan dan senyum kepadaku. Dalam hati aku berkata “Ya tuhan.. terima kasih kau telah memberiku jodoh yang cantik luar dalam, terima kasih tuhan..”. Saat itu juga Inas datang menghampiriku. Senang, grogi bercampur menjadi satu. Terkadang dia mencubit pipiku dan menggandeng tanganku sampai aku salah tingkah dibuatnya. Tidak lama kemudian Inas berangkat ke sekolah dengan temannya.
Suatu saat badanku agak demam, aku sms Inas. Tapi tidak terlalu lama. Tidak seperti biasanya, yang biasanya sms Inas sampai larut malam, sekarang cuma 10 menit kurang.
“yang, kepalaku pusing nih.. tak istirahat dulu yaa”
“aa iya sayaang, istirahat aja dulu :)”
“iya yaang, maaf gak bisa nemenin :*”
“gakpapa, GWS sayaaang :*”
Perlahan ada suatu keanehan, Inas tidak lagi perhatian denganku. Sampai-sampai aku marah sama dia. Dia bilang dia sibuk sekolah. Aku tahu dia sibuk sekolah, tapi apa sulitnya memberi kabar kepada pacarnya terlebih dahulu kalau dia sibuk. Tanggal 28 November 2012, diadakan Ulangan Akhir Semester. Tapi aku sama sekali tidak belajar. Karena memikirkan sebuah hal. Yaa! Apalagi kalau soal Inas. Pusing aku dibuat. Lalu di hari kedua, saat aku dan Ricky membicarakan Inas, Ricky mengatakan sebuah kalimat yang cukup membuatku hancur. Ricky bilang “Dia pinginnya P.U.T.U.S”. Sontak aku langsung terdiam seribu bahasa.
Sepulang tes, aku langsung sms Inas. Panjang lebar aku jelaskan. Tapi dia tidak mau mengakui hal tersebut. Dia tidak tahu kalau aku memang benar-benar mencintai dia, tidak mau kehilangan dia. Sampai-sampai aku menangis. Malam harinya dia marah, sampai aku mengucapkan kata maaf, tidak diindahkan begitu saja. Sepanjang hari aku terlarut dalam kesedihan dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada tanggal 3 Desember 2012, temanku Indra sakit dan terpaksa tidak dapat mengikuti Ujian selama beberapa hari. Pada hari itu juga, aku, Anis Junair, Hauzan, Ravi, dan Ricky menjenguk Indra di rumahnya. Saat di rumahnya Indra, kami terpaksa mengurungkan niat untuk pulang karena hujan. Daripada tidak ada hal yang bisa dilakukan, aku membuka FB. Dan melihat, ternyata Inas membuat status “miss mutun!” dengan emotikon sedih. Tidak lama setelah itu, Inas sms aku “kangen.. :(“ aku kaget dengan sms itu, bukannya dia masih marah sama aku. Akupun langsung membalas sms itu “iyaa aku juga kangen.. :(“. Rupanya setelah sms itu, aku dan Inas tidak marahan lagi. Tapi hal itu hanya sesaat.
Pada tanggal 8 Desember 2012 tepatnya hari Sabtu, aku, Ricky, Deska, dan Inas Hangout bareng. Agenda utama adalah menonton film. Aku, Ricky, dan Deska menunggu Inas di depan Bioskop XXII. Tidak lama kemudian Inas datang. Dia langsung mengajak kami bertiga untuk memesan tiket. Walaupun sempat bingung untuk memilih film apa yang akan di tonton. Kami memutuskan untuk melihat Twilight : Breaking Dawn Part Two. Ricky dan Inas memesan tiket. Sedangkan aku dan Deska menunggu mereka. Setelah mendapatkan tiket itu, kamipun duduk menunggu film itu diputar yang kebetulan mulai jam 14.00 WIB. Kami berempat duduk di tempat yang disediakan. Dari kanan adalah Deska, sebelahnya ada Ricky. Lalu sebelah Ricky ada Aku dan Inas di samping kiriku.
Jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, itu adalah saat yang ditunggu. Kami mengantri untuk masuk. Aku dan Inas berada didepannya Ricky dan Deska. Lalu Inas mencarikan tempat duduk. Setelah dapat tempat duduk itu, Aku duduk disebelah kirinya Inas. Sebelah kanannya Inas ada Deska dan Ricky. Tidak lama kemudian film itu diputar. Kami tidak terlalu paham dengan jalan cerita film tersebut. Jadi kami hanya berbicara pelan dengan pasangan masing-masing. Inas terkadang meminjam Hpku. Untuk apa? aku tidak tahu. Mungkin untuk mengecek apa ada yang aku sembunyikan. Jujur aku adalah tipe orang yang setia. Sekali mencintai seseorang sulit untuk melepasnya.
Saat film diputar, HP Inas menyala tanda ada sms masuk. Tapi kenapa saat sms itu masuk, HP Inas dimiringkan hingga aku tidak bisa melihatnya. Aku langsung berpikiran kalau Inas punya sesuatu yang disembunyikan dariku. Setelah film selesai, akupun menggenggam tangan Inas untuk keluar dari gedung bioskop itu walaupun sesaat. Lalu saat kami berempat hendak membeli Es Krim, Hpku berbunyi. Rupanya Ayahku menelpon. Saat aku angkat, tidak ada jawaban. Akupun langsung mengirim sms kalau aku lagi keluar dan pulang agak malam. Setelah dapat Es krim, kami mencari tempat duduk untuk makan Es krim itu. Aku sengaja tidak memesan Es krim itu, karena badanku agak pusing ditambah hidungku sedikit flu. Saat duduk, seperti biasanya kami berempat bercanda bersama-sama. Tidak lama kemudian kami memutuskan untuk pulang. Kamipun pulang dengan menaiki BRT. Aku mengambil uang dan menyuruh Ricky untuk beli tiket. Lalu BRT tidak lama kemudian datang. Deska, Ricky, dan Inas mendapatkan tempat duduk lebih awal. Aku memang sengaja berdiri disamping Ricky. Setengah perjalanan berlalu aku mendapat tempat duduk, tapi tidak bersebelahan dengan Inas.
Setelah sampai di sebuah Halte. Aku dan Inas turun. Sedangkan Ricky dan Deska masih di dalam BRT karena tempat tujuan mereka masih jauh. Disamping halte ada sebuah pohon akasia. Aku dan Inas berdiri disana. Sebelum Inas di jemput oleh saudaranya, aku disuruh pulang terlebih dahulu. Karena hari sudah sore. Sebelum pulang aku berpamitan dulu dengan Inas, aku mengulurkan tanganku lalu dia menempelkan tanganku di pipinya. Begitu juga sebaliknya, Inas menempelkan tangannya di dahiku. Di saat itu juga, ada sebuah bus berwarna biru, Inas menyuruhku untuk menaiki bus itu. Aku nurut perintah dia. Lalu aku naik ke bus itu. Aku melihat Inas dari kejauhan, sendiri tidak ada yang menemani.
Malam harinya aku sms dia. Memastikan apakah dia marah atau tidak kepadaku “Have a nice Satday :)” smsku. Sepuluh menit kemudian dia membalas smsku, “Udah mandi belom?” tanya dia melalui sms. Lalu akupun langsung menjawab “udah kok, kamu?”. dia jawab “Ya samaa”. Cuma itu sms darinya. Lalu aku memutuskan untuk menyelesaikan sms malam itu karena aku tahu dia capek karena seharian Hangout bareng.
Beberapa hari kemudian hal yang tidak diinginkan terulang kembali. Sekarang tekadku sudah bulat. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Inas. Ternyata Inas sms aku :
“Adit knapa?” tanya dia
“enggak papa” jawabku
“yakin?” tanya dia lagi
“iyaa”
“ciuss?”
“iyaa ciuuss”
Setelah itu Inas tidak membalas. Tepat pukul 20.33 WIB aku langsung sms dia
“inas maaf yaa”
“maaf apa?”
“maaf kalo selama ini aku punya banyak salah sama kamu” sms dengan mulai menitihkan air mata
“ya kamu kan udah tau, tanpa kamu minta maaf pun aku udah maafin”
“iya makasih udah maafin. Inas mulai skrg..”
“ngomonge jgn dipotong potong ah :o”
“iya maaf, mulai skrg kita temenan aja yaa?”
“yakin?”
“iya yakin, aku udah gak sanggup lagi”
“gak sanggup apa emang? putus pas sehari sebelum anniv yang?”
”enggak sanggup kalo kayak gini terus. gak, gak ada anniv”
“halah --“ padahal udah ada kadoo”
“simpen aja kadonya buat orang yg kamu sayang yg pantes ngdapetin kado itu”
“haha bahasamu ki lhoo :p”
“kenapa? aku seriusan”
“iyaa aku tau. tapi aku gak suka nada bicaramu ok“
“aku harus gimana?”
“ ya kayak km biasanya lah. aneh tauk kalau km kayak gini --“”
“ini aku, gak ada yg aneh dari aku. yaudah ya nas, maaf belom bisa ngasih yg terbaik buat kamu. ku harap esok hari kau bisa menemukan seseorang yg lebih dari aku”
“aku ndak terima mbo putuske ok :x aku pengennya aku yg mutusiiinn :p :D”
“yaudah putusin aku skrg”
“hehe ndak mau :p”
“knapa nggak mau mutusin?”
“hehe ndak mau sekarang :p besok anniv ok, eman2 u,u”
“alasannya cuma itu? gak sayang lagi kan?”
“sayaaannnggg kok. makanya aku gak mau terlalu cepat pisah, bahkan belum ada sebulan u,u”
“apa buktinya kalo masih sayang? kamu kayak udah gak ada perhatian sama aku lagi :(“
“emm buktinya aku masih ngulur2 waktu biar kita gak pisah skrg :p aku memang bukan tipe org yg perhatian secara tersurat ok :p perhatianku tersirat haha :D”
“kalo akunya pergi boleh?”
“ya serah laahh~ itu kan .. pilihanmyu :)”
“kalo aku udah gak ada DISINI lagi gimana? aku tau kalo kamu sayang, tapi aku juga butuh perhatianmu”
“gak ada disini? lha dimana emang? :p yaudah sini sini aku perhatiin :D”
“lha menurutmu dimana? aku pinginnya kita hubungan kayak biasanya, gak ada marah-marahan lagi. intinya saling percaya saling jaga diri”
“dihatimyu wkwk :p halah rumit ok, bingung aku”
“knapa bingung? simple lho. inget ya, aku cuman butuh sayang + perhatianmu aja gak lebih”
“terus?”
“udaahh ~ janji yaa, kamu masih sayang mutun?”
Dan dia enggak membalas smsku. Mungkin dia sudah tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB.
Setelah kejadian itu, aku jadi malas untuk kontak dengan dia. Takut. Takut kalau dia marah lagi. Pada tanggal 10 Desember 2012 aku mencoba sms dia lagi
“Inas?” smsku ke Inas
“apa?”
“Inas, aku mau tanya. Dulu kamu pernah bilang mau bikin stop emotion? Itu apa? :o”
“mbb baru pulang. Emang aku pernah bilang gitu ke kamu?”
“kan kamu pernah salah kirim. Yg harus e kamu kirim ke ricky malah ke kirim di aku”
“oalah. ya kayak gitu pokoke. Sebetule itu buat anniv kita. Tp km yg bilang sendiri kalau gak ada anniv yowes”
“yaallah apa to? Jangan bilang “yowes” dong :(“
“lha piyee? -_- nk gitu tak ganti.. yaudah”
“halaah inas kih-__- kamu masih mau lanjut gak? Sebener e aku masih mau, tapi aku gak sanggup kalo sayang Cuma dari mulut gak dari hati. Katan e masih sayang?”
“aku mau nanya tapi jawab jujur”
“iyaa, apa?”
“kamu tu cowok apa bukan sih?”
“ya cowok lah-__- apa kenapa? Gara-gara kemaren itu ya?”
“beneran cowok? Setauku cowok tu tegas deh, selalu konsisten sama kata2nya sendiri, gak plin plan. Koe ki mbingungi ok”
“aku narik ulur kata-kataku krn aku msh sayang sama kamu, gak mau pisah dari kamu :’*”
“tambah mbingungi ok km ki”
“hasyah-__- skrg aku boleh gantian nanya gak?”
“apa”
“kamu masih sayang gak?”
“mbuh rak ngerti”
“gak butuh jawaban kayak gitu aku, cepet dong di jawab :)”
“koe ki mudeng rak sih? Aku jek jengkel mbe kamu. Rak sah sok baik, sok manis, sok dramatis, aku jek rak mood”
Tapi setelah Inas sms aku dengan kata seperti itu, aku tidak membalasnya. Karena aku tahu kalau dia sudah tidak ada rasa sayang, perhatian, dan cinta seperti dulu. Setelah itu, aku berpikiran kalau aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan dia. Atau dengan kata lain aku dan Inas sudah Putus.
>>>>>>>>SELESAI<<<<<<<<
“Jika kau berkata sayang kepada seseorang, janganlah kau hendak berkata selamat tinggal kepada orang tersebut. Karena itu akan sangat menyakitkan...”
Aditiya TriSetyo W 11 Desember 2012